
Artikel ini diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris menggunakan Goog
Pendahuluan
Sembilan tahun lalu, saya ingat pernah membagikan sebuah unggahan di akun Facebook yang kini sudah dihapus tentang 9 Pria Muslim Inspiratif yang Berjaya di Tahun 2016. Saya tidak menyadarinya sampai seorang teman menegur saya—bahwa saya hanya ingin masuk ke dalam daftar itu suatu hari nanti.
Sekarang sudah tahun 2026, dan saya masih jauh dari daftar tersebut. Ketika Anda mencapai usi
Namun, sebuah fenomena langka baru-baru ini telah memaksa saya untuk mencermati hidup dan menyalakan kembali semangat untuk meraih lebih banyak hal sebagai seorang pria Muslim. Saya sepenuhnya menyalahkan Zohran Mamdani dan keberhasilannya yang telah memicu krisis kehidupan dalam kepala saya.
Izinkan saya menyediakan sebuah konteks di awal: Saya biasanya tidak membandingkan diri saya dengan orang lain (terutama pria lain) setelah menghapus sebagian besar platform media sosial pada tahun 2023. Selain itu, teman-teman saya mungkin juga terkejut bahwa saya sebenarnya tidak memiliki sosok teladan pria.
Hal-hal inilah yang justru menambah impak Mamdani ketika saya pertama kali mengikuti gerak-geriknya. Dia telah menjadi wajah baru dari sebuah partai politik besar, memenangkan kontestasi politik melawan elit politik dan pendukungnya yang mapan, serta terpilih sebagai wali kota di kota terbesar di Amerika Serikat. Ia meraih semua itu tanpa menanggalkan statusnya sebagai sosok progresif yang lantang dan Muslim yang bangga dengan imannya.
Di usia 34 tahun, ia telah mencapai apa yang hanya bisa dibayangkan kebanyakan orang sebagai puncak fantasi mereka. Dibandingkan dengan itu, saya, seorang pria berusia 33 tahun, menghabiskan waktu belakangan ini dengan bermain Clair Obscur: Expedition 33. Bagi Anda yang ti
Kesuksesan luar biasa Mamdani membuat saya bertanya kepada siapa pun yang mau mendengarkan: mengapa saya tidak bisa menjadi seperti dia di Makassar? Kalau pertanyaannya kita tarik lebih luas, mengapa negara-negara mayor
Pria-Pria Bermasalah
Menjadikan Mamdani sebagai sosok teladan mungkin bisa dijelaskan sebagai sebuah respons pribadi terhadap masalah besar yang juga menimpa diri saya: krisis maskulinitas global. Intinya, krisis ini adalah situasi kronis di mana perubahan struktural dan sosial yang drastis dalam beberapa dekade terakhir telah membuat para pria merasa kehilangan arah dan relevansi dalam hidup.
Buku-buku seperti Of Boys and Men dan Notes on Being a Man menelaah topik ini lebih jauh dan membahas konsekuensinya secara panjang lebar. Singkatnya, beberapa tantangan yang banyak dihadapi pria-pria saat ini termasuk prestasi akademik yang rendah, keterpinggiran ekonomi, keusangan fungsi budaya, adopsi misogini daring dan kurangnya sosok teladan.
Penulis kedua buku tersebut sepakat bahwa kehadiran sosok teladan pria adalah salah satu pagar pembatas yang mencegah para pria terjerumus ke dalam masalah-masalah yang sering dikaitkan dengan laki-laki pada era ini. Artikel dari Dina Zaman membumikan diskusi ini dalam konteks Malaysia dan juga memberikan beberapa contoh. Namun, jika Anda masih bertanya-tanya bagaimana krisis maskulinitas biasanya hadir di tengah-tengah kita, Anda mungkin sudah pernah terkena dampaknya akhir-akhir in, sadar atau tidak. Mulai dari keterlibatan dalam sikap kejantanan yang merusak, fanatisme terhadap dunia manosphere daring, perkembangan masalah kesehatan mental yang parah, ketidakhadiran secara emosional (emotionally unavailable), hingga timbulnya perilaku bermasalah seperti manipulasi psikologis (gaslighting) dan pengabaian sepihak (ghosting).
Makanya, tidak heran jika istilah “cowok red flag” menjadi topik umum dalam percakapan dunia kencan di Indonesia saat ini, setidaknya di lingkaran pertemanan saya.
Sosok Teladan
Ketertarikan saya terhadap Mamdani terdiri dari berbagai lapisan. Pertama, dengan mencapai sesuatu yang luar biasa, ia menjadi contoh kepada para pria lain bahwa kita masih tetap bisa sukses walaupun terkena dampak krisis ini.
Faktor-faktor keistimewaan yang ia miliki, termasuk pendidikan tinggi, keluarga yang stabil dan istri yang suportif, justru menegaskan mengapa pria perlu terus terlibat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri – baik itu institusi yang positif maupun masyarakat – agar mampu menciptakan “nilai tambah” bagi orang-orang di sekitarnya. Saya ragu Mamdani akan seberhasil ini jika ia mengikuti ideologi beracun yang populer seperti “lone wolf-ism” dan “sigma male-ism”.
Kedua, kesuksesan politik Mamdani tidak menuntut untuk menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Muslim. Ketika seseorang menjadi bagian dari kelompok minoritas dalam suatu masyarakat, seringkali ada tekanan sosial (atau bahkan ekspektasi) untuk menyembunyikan identitasnya atau mengabaikan prinsipnya. Hal-hal ini dilakukan demi mendapatkan penerimaan dari masyarakat ramai, bahkan sampai di titik di mana seseorang merasa harus meminta maaf karena memeluk agama Islam, dalam konteks Muslim.
Mamdani membalikkan hal ini. Jejak kampanyenya, pidato kemenangannya dan pelantikannya mencontohkan kepercayaan diri yang luar biasa pada keyakinan agamanya dan penolakan untuk meminta maaf atas ke-Musliman-nya. Kehadirannya di ranah politik adalah perubahan yang menyegarkan, terutama setelah tren beberapa dekade terakhir yang sering memandang Muslim sebagai ancaman keamanan (saya dulu pernah meneliti tentang kontra ekstremisme kekerasan). Teladannya juga merupakan seruan bagi semua orang untuk mencapai titik pemahaman bersama, bukan dengan meminta umat Islam untuk menjelaskan diri dan agama mereka, melainkan dengan dorongan kepada kaum lain untuk mencoba memahami umat Islam dengan segala pengalaman dan latar belakang mereka yang beragam.
Beberapa orang mungkin melihat celah dalam pemikiran saya. Kita sudah tinggal di negara mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia, jadi bukankah kita sudah memiliki ruang dan kesempatan untuk menunjukkan kebanggaan kita sebagai Muslim?
Di sinilah progresivitas Mamdani menambah nuansa dan kompleksitas pada identitas Muslimnya. Ia merangkul banyak konsep dan isu yang tidak akan disentuh oleh penganut Muslim yang lebih konservatif: sosialisme dan LGBT, di antaranya. Diskusi lebih mendalam tentang pandangannya yang berseberangan berada di luar cakupan tulisan ini; namun, sangat menarik bagaimana ia bisa mengklaim imannya tapi juga menantang pandangan sebagian besar rekan seagamanya sekaligus. Hal itu membutuhkan keberanian, keyakinan diri dan kenyamanan dengan imannya yang besar.
Saya bertanya-tanya apakah, dalam satu sisi, ia telah memvalidasi tren yang muncul di kalangan milenial dan Gen Z Indonesia di mana iman sedang ditafsirkan ulang dan diselaraskan untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai pribadi, kebutuhan emosional dan pengalaman sehari-hari. Pertanyaan yang ada di benak saya adalah apakah Mamdani juga mengalami konflik internal dalam upayanya menyeimbangkan antara iman dan pandangan politiknya, tetapi saya akan menyerahkan hal ini kepada para psikolog dan filsuf. Namun, hal ini tidak mengasingkan dirinya dari warga Muslim New York yang gembira menyambut seorang Muslim dilantik sebagai wali kota. Faktanya, sebuah jajak pendapat menemukan bahwa 97% pemilih Muslim memilih Mamdani saat pemilu.

Beberapa orang mungkin menyebut ini sebagai sebuah kontradiksi. Saya menyebutnya sebagai kenyataan hidup. Secara pribadi, saya sendiri adalah seorang non-konformis, sering mempertanyakan tatanan masyarakat dan bertanya-tanya mengapa mayoritas orang lain mengikuti tren yang sama.
Mamdani menciptakan sebuah paradoks – seorang Muslim dengan pandangan yang berseberangan – dan hal ini mempunyai beberapa kesamaan dengan sudut pandang saya. Namun di luar keyakinan pribadi saya, Mamdani telah berhasil membuktikan kepada dunia bahwa umat Islam lebih dari sekadar citra dangkal yang dilukiskan dunia Barat dalam beberapa dekade terakhir (yakni terbelakang dan berbahaya). Hal ini memperkuat narasi bahwa umat Islam sama kompleksnya, sama membuminya dan sama manusianya dengan penduduk lain di planet ini.
Mamdani telah menginspirasi saya untuk meraih lebih banyak hal sebagai seorang Muslim dan membela apa yang saya yakini, bahkan jika saya terkadang harus berseberangan dengan beberapa pihak lain.
Identitas di Atas Substansi?
Media arus utama maupun media sosial di Malaysia dan Indonesia meledak dengan euforia yang seringkali menyoroti latar belakang Mamdani sebagai seorang Muslim.
Namun, kegembiraan tersebut mengundang kesangsian dari beberapa pengamat atas apa yang mereka sebut sebagai obsesi terhadap identitas di atas substansi.
Dalam taraf tertentu, kritik semacam ini ada benarnya. Budaya politik Asia Tenggara seringkali lebih menyoroti identitas pribadi, latar belakang dan gaya kepemimpinan dibanding ideologi dan kebijakan. Ketertarikan terhadap agama Mamdani, misalnya, tidak dibarengi dengan perhatian yang sama terhadap kebijakannya yang mencakup pembekuan harga sewa, layanan pengasuhan anak universal, bus kota gratis dan sebagainya.
Jika pengawasan terhadap politik dan kebijakan politisi lokal saja sudah berada pada tingkat minimal, kecil kemungkinannya warga di sini akan mencermati program-program politisi di tempat yang jauh.
Yang lebih bermasalah adalah kenyataan bahwa perhatian terhadap identitas Mamdani tampaknya bersifat selektif. Mamdani adalah pengikut Syiah Dua Belas Imam, fakta yang bisa membuat banyak pengikut Sunni Muslim di Asia Tenggara merasa cemas. Namun, hal ini tidak banyak disebutkan. Ia juga seorang sosialis, yang mungkin bagi beberapa orang jauh lebih buruk, mengingat bagaimana politik sayap kiri seringkali masih dikaitkan dengan ateisme.
Posisi-posisinya yang lebih kontroversial, seperti dukungan terhadap kelompok LGBT, memang memperumit penerimaan terhadap dirinya. Namun, hal ini biasanya tidak diikuti oleh diskusi yang lebih mendalam tentang keyakinan dan identitas Muslim yang bervariasi, karena seringkali perdebatan tersebut dengan cepat merosot menjadi wacana biner tentang apakah Mamdani itu betul seorang Muslim atau bukan. Seorang pelatih di pusat kebugaran saya, misalnya, memuji sekaligus mencela Mamdani dalam waktu 10 detik karena alasan ini.
Hal ini menyajikan sisi menarik dari politik identitas di Asia Tenggara, di mana pemilih umumnya hanya memperhatikan identitas tertentu dari seorang politisi tetapi mengabaikan yang lain. Jelas ini adalah pertanyaan penelitian baru bagi mereka yang tertarik untuk mengeksplorasi topik ini lebih jauh.
Mengabsahkan Perayaan atas Mamdani
Meskipun demikian, kritik tersebut mengabaikan kondisi psikis orang-orang yang merayakan terpilihnya Mamdani sebaga
Pertama, adanya (persepsi) kekurangan sosok Muslim yang inspiratif saat ini. Pencarian di Google atau riset singkat menggunakan Gemini, misalnya, lebih menyediakan contoh-contoh yang sangat condong ke kategori tertentu, seperti ulama, pengusaha sukses atau tokoh sejarah. Ada juga kekurangan jajak pendapat atau survei yang merinci mengenai tokoh Muslim mana yang dihormati di kawasan ini.
Tentu saja, ada Muslim terkemuka saat ini yang juga menginspirasi orang lain. Gemini menawarkan beberapa nama yang mencakup olahragawan (Mo Salah, Khabib Nurmagomedov), penghibur (Riz Ahmed, Ramy Youssef), pemimpin agama (Husein Ja’far Al Hadar, Ustadz Adi Hidayat) dan politisi (Anwar Ibrahim, Anies Baswedan).
Namun, tidak ada statistik yang merinci berapa banyak o
Saya pun turut bersalah—sangat sulit menemukan sosok-sosok yan
Oleh karena itu, kebangkitan Mamdani menjadi relevan di sini. Di samping pencapaiannya, ia juga memotivasi Muslim lainnya untuk menumbuhkan rasa bangga dengan dengan diri sendiri dan dengan keyakinan mereka. Ia juga menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi teladan tanpa harus bersikap keras dan menggurui dalam beragama; malahan, dia menggabungkan kewajiban agama dengan realitas hidup yang dialami umat Islam. Hal ini memastikan bahwa ia dapat dijangkau oleh berbagai kalangan umat Islam dari latar belakang yang berbeda-beda.
Kedua, dampak dari sekuritisasi Muslim di beberapa dekade terakhir. Sudah begitu lama, berkat kebijakan seperti Global War on Terror, banyak umat Islam diarahkan untuk percaya bahwa ada sesuatu yang salah secara hakiki dalam memeluk Islam. Alih-alih mengejar kebenaran sejati melalui rasa ingin tahu, pikiran kritis dan hati yang terbuka, umat Islam justru didorong untuk mendekati agama dengan kecurigaan, ketakutan, dan rasa tidak aman. Pertumbuhan ekstremisme radikal merunyamkan situasi dengan memaksa umat Islam untuk memandang dunia melalui kacamata api dan kebencian. Sebagai pelengkap, industri Islamofobia yang besar semakin memperkuat atmosfer global yang berupaya menekan identitas dan ekspresi Muslim.
Ketika para aktor bersaing mendiktekan “versi Islam yang benar”, ruang bagi banyak Muslim untuk mengejar dan mencapai kebenaran spiritual mereka secara alami menjadi terbatas. Aktor-aktor tersebut menawarkan wacana yang sering kali sangat mengabaikan sejarah, pandangan dunia dan nilai-nilai Islam yang luas; akibatnya, tercipta pandangan reduksionis tentang Islam yang tidak menghargai agensi umat Islam yang sekadar merindukan Tuhan mereka. Banyak yang terjatuh ke dalam celah dari kedua ekstrem tersebut – menjadi Muslim radikal atau murtad – sementara yang lain berjuang untuk menumbuhkan kebanggaan yang tulus pada iman tersebut.
Sebagaimana disinggung di atas, Mamdani menantang tren ini, meyakinkan umat Islam bahwa mereka tidak perlu meminta maaf karena memeluk Islam atau membenarkan iman mereka kepada orang lain. Apakah seseorang beribadah dengan rajin atau tidak adalah pertanyaan terpisah (religiusitas Mamdani sendiri merupakan sebuah teka-teki di internet)—intinya, umat Islam semestinya bisa mengejar kebenaran mereka tanpa rasa tidak aman. Sepanjang masa kampanye, Mamdani harus menangkis tuduhan Islamofobia dan rasis yang mengaitkan dirinya dengan Islam radikal. Oleh karena itu, kemenangannya di pemilu meromantisasi perjuangan sesama Muslim untuk mengukir ruang mereka dan mendapatkan pengakuan, serta penerimaan dari orang lain di masyarakat.
Ketiga, euforia atas Mamdani mekar di tengah pola pikir yang menyebar di antara umat Muslim Asia Tenggara. Ini termasuk ghazwul fikr (perang pemikiran), atau Westernisasi budaya populer yang masif di Asia Tenggara, dan mentalitas terkepung (siege mentality) yang memandang Barat sebagai penindas yang bertujuan melenyapkan Islam. Perspektif seperti ini menyebabkan banyak umat Islam merindukan kejayaan Islam, bebas dari penindasan aktor luar.
Sebagai produk lembaga pendidikan Islam hampir sepanjang hidup saya (yang berarti saya selalu berada di lingkungan Muslim yang taat), perspektif seperti ini adalah tema-tema yang selalu muncul, terutama pada tahun 2000-an ketika kekuatan penuh globalisasi mulai membentuk kehidupan di Indonesia. Bahkan sekarang, pandangan-pandangan seperti ini terus bermunculan dalam berbagai diskusi tentang dunia Muslim, biasanya dibarengi dengan diskusi tentang kegagalan umat Islam untuk merebut kembali kebangkitan Islam di abad ke-13 dan 14 yang menandai puncak peradaban ini.
Kemenangan Mamdani, dengan demikian, menjadi jeda yang menyegarkan di tengah suasana suram ini. Seorang Muslim kini menjabat sebagai wali kota di pusat kapitalis dan liberal Amerika Serikat, memberikan secercah harapan terhadap bangkitnya Islam dan – dalam pola pikir yang lebih biner bagi sebagian orang – kemenangan (yang akan datang) melawan Barat. Sikap anti-genosida Mamdani semakin memperkuat kredibilitasnya di mata khalayak bahwa ia ada di sini untuk memperjuangkan rakyat Palestina yang tertindas.
Ini hanyalah beberapa persepsi yang patut dipertimbangkan untuk memahami mengapa Muslim di Asia Tenggara merayakan kemenangan Mamdani, dengan penekanan khusus pada agamanya. Hal ini tidak terjadi dalam ruang hampa—perhatian terhadap identitasnya (yang tertentu) adalah hasil dari sejarah panjang dan pengalaman bertahun-tahun tentang apa artinya menjadi seorang Muslim di sini.
Jika ada satu pelajaran yang bisa kita petik dari perdebatan ini, hal itu adalah adanya keharusan untuk memahami umat Islam apa adanya; ritual mereka, pola pikir, sejarah, pengalaman, praktik dan, secara oksimoron, iman mereka.
Lawan dan pengkritik Mamdani hanya melihatnya sebagai anggota kelompok minoritas dan seseorang yang menjadi ancaman keamanan. Mereka mengabaikan pendidikan, sejarah, nilai-nilai keluarga, dan hubungannya dengan masyarakat, seolah-olah setiap Muslim tidak memiliki semua hal tersebut yang membuatnya menjadi manusia. Tentu saja para Muslim lain bersorak saat ia menang.
Kesimpulan
Mamdani mungkin telah menginspirasi saya dan orang lain di Asia Tenggara, tetapi kecil kemungkinan banyak orang di sini akan segera muncul menjadi seseorang revolusioner yang sangat berdampak seperti Mamdani.
Menjadi seorang Mamdani berarti menjadi seseorang yang tidak gentar untuk duduk berseberangan dengan orang lain, termasuk dengan sesama Muslim sekalipun. Di lingkungan konservatif Asia Tenggara, kesempatan untuk hal ini sangat terbatas. Seseorang perlu berusaha usaha keras untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada cita-cita dan prinsip seseorang—keluar dari arus utama untuk membela apa yang Anda yakini berarti ada kemungkinan besar Anda akan dicap sebagai orang yang individualistik, suatu hal yang sering dicemooh di sini. Anda membutuhkan pendidikan berkualitas, sistem pendukung yang kuat dan kerendahan hati untuk bernegosiasi dengan massa guna menghadapi tantangan yang menghambat perjalanan Anda.
Lupakan soal massa; banyak pria bahkan tidak tahu apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka lakukan dalam hidup. Sedihnya, akhir-akhir ini saya menjumpai banyak pria lain yang berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dengan dampak nyata yang bermacam-macam. Bisa jadi mereka juga adalah pribadi-pribadi yang bisa menjadi seorang Mamdani atau lebih, tapi jatuh karena pengaruh krisis maskulinitas global. Dengan kata lain, banyak kondisi saat ini yang menghambat perjalanan kita sebagai pria. Namun untuk saat ini, saya senang akhirnya punya seorang teladan yang bisa saya ik