Articles

Makassar di pagi hari. Kredit: snapshotsfromspira

Kita Memang Sudah Tampak Muslim, Tapi Mana Substansinya?

Artikel ini diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris menggunakan Google Gemini

Paradoks

Ada sebuah perkembangan yang sangat disayangkan—salah satu mantan presiden almamater saya, International Islamic University Malaysia (IIUM), baru-baru ini didakwa atas dugaan konspirasi transaksi surat berharga tanpa izin.

Tan Sri tersebut diduga telah menipu warga Malaysia sebanyak RM300j, walaupun beliau mempunyai kredibilitas cemerlang sebagai salah satu tokoh paling terkenal dalam dunia keuangan Islam. Ia mengaku tidak bersalah dan saat ini sedang menunggu persidangan dilanjjtkan. Namun, hal itu tidak menghentikan publik untuk melontarkan julukan menghina kepadanya seperti “penipu umat”.

Jika terbukti bersalah, ia terancam denda RM10j atau hukuman penjara 10 tahun, atau keduanya.

Kasus penipuan yang berkaitan agama bukanlah anomali saat ini. Sebuah skema investasi gadungan berlabel “syariah” lainnya dilaporkan telah menyesatkan lebih dari 200 klien dengan kerugian mencapai RM80j. Kasus lain yang sedikit berbeda adalah skandal daging impor selama empat dekade yang dikemas dengan logo halal palsu demi menipu konsumen Muslim di Malaysia.

Sementara itu, pihak berwenang di Indonesia baru-baru ini menggerebek kantor sebuah perusahaan fintech syariah atas dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan dokumen. Penipuan yang dilakukan oleh perusahaan perjalanan umrah dan haji juga merajalela; sepanjang tahun 2026 saja, polisi telah memproses 42 kasus serupa dengan akumulasi kerugian mencapai Rp92,6m.

Maraknya produk, merek dan layanan Islami di negara mayoritas Muslim dipicu oleh perkembangan ekonomi yang pesat, stabilitas politik, serta meningkatnya kesadaran akan identitas Islam. Namun, seiring berkembangnya gaya hidup dan ekonomi syariah, berkembang pula peluang untuk menyalahgunakan kesempatan baru yang diciptakan kedua hal ini.

Saya yakin kasus-kasus seperti ini telah memicu keheranan banyak orang, namun sedikit yang berani mendiskusikannya secara terbuka. Mereka yang menyalahgunakan nama Islam demi kepentingan pribadi sebenarnya telah mencoreng agama ini.

Tindakan mereka menunjukkan sebuah keangkuhan—seolah-olah standar tinggi dan tanggung jawab berat yang melekat pada label “Islam” tidak berlaku bagi mereka.

Amarah

Berakar kuat pada keadilan sosial, Islam menetapkan standar dan aturan tingkat tinggi, memerintahkan pengikutnya untuk menjadi khalifah tuhan di muka bumi (khilafah fil-ar) sambil melindungi lima kebutuhan dasar: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta (maqasid al-shari’ah).

Tindakan salah pelaku kasus-kasus di atas merupakan pelanggaran berat terhadap segala hal yang diperjuangkan Islam yang diperburuk oleh klaim bahwa aktivitas mereka tersebut “Islami” atau “sesuai syariah”.

Sebagai sebuah sistem etika, Islam memberikan aura kehormatan dan moralitas bagi mereka yang mengaku Muslim. Ketika seseorang berkata bahwa ia adalah seorang Muslim, itu bukan sekadar penegasan identitas. Itu adalah semacam deklarasi bahwa ia berkomitmen pada aturan tertentu demi kebaikan manusia dan segala ciptaan tuhan di muka bumi ini.

Contoh yang ingin saya berikan adalah pertemuan saya dengan seorang sopir Grab di Kuala Lumpur yang nyaris berteriak kepada saya saking emosinya membicarakan topik ini.

Begitu tahu saya orang Indonesia, ia mulai mencurahkan kekesalannya tentang mengapa beberapa Muslim suka berceramah bahwa babi dan alkohol itu haram, tetapi biasa saja saat menerima suap dan memakan “duit haram”. Meski percakapan aslinya jauh lebih panjang dan rumit, itulah inti dari kemarahannya.

Terlepas dari emosi si sopir, kejadian ini mengingatkan saya bahwa ketika kita menyatakan diri sebagai seorang Muslim, kita bertanggung jawab besar untuk menjaga perilaku dan nama baik Islam. Bahkan seorang sopir Grab non-Muslim di Malaysia pun mengharapkan standar ini dari kita. Hal ini menunjukkan bahwa identitas agama bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan.

Islamisasi

Sebagai seorang milenial Muslim Indonesia, hidup saya dipengaruhi oleh beberapa peristiwa dan pengalaman penting.

Orang tua saya adalah bagian dari kelompok yang kesadaran Islamnya menguat setelah Soeharto mengubah sikapnya terhadap agama di masa-masa akhir jabatannya. Pegeseran Indonesia ke arah yang lebih konservatif juga memperkuat identitas saya (yang mengantarkan saya untuk selalu bersekolah di institusi Islami), namun masa-masa di IIUM-lah yang mengukuhkan pandangan dasar saya mengenai agama. Di sanalah agenda Islamisasi diperkenalkan, di mana mahasiswa diajak untuk mendekati kehidupan, ilmu pengetahuan dan pemikiran dari perspektif Islami.

Islamisasi adalah proses komprehensif di mana mahasiswa didorong untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam sebagai persiapan menjadi khalifah setelah lulus. Namun, IIUM mengimbangi ini dengan peringatan agar tetap kritis; menerima mentah-mentah apa pun yang berlabel “Islami” justru bisa berbahaya.

Masalahnya, kehidupan menjadi menjadi rumit setelah lulus dari IIUM, karena pandangan dunia Islami yang diajarkan di kampus sering kali berbenturan dengan kenyataan di lapangan.

Sampah

Kita melihat orang dengan busana Muslim yang santun membentak anak-anak mereka di mal. Kita shalat di sebuah masjid terapung, tapi melihat sampah menumpuk di laut bawahnya yang airnya berubah cokelat karena polusi. Kita mengeluh tentang tumpukan sampah koran bekas yang ditinggalkan jamaah setelah salat Id, padahal kebersihan adalah bagian dari iman.

Kita menonton berita tentang pemilik pesantren yang melecehkan santrinya, atau perusahaan yang memampang label agama namun menyembunyikan praktek kekerasan seksual dan fisik terhadap anak.

Mungkin yang paling buruk, kita menyaksikan genosida yang terjadi di Gaza, namun melihat organisasi keagamaan justru mendukung platform yang dibuat oleh negara-negara yang membiarkan genosida itu terjadi.

Ini memicu pertanyaan: apakah proses Islamisasi ini belum selesai? Memperlihatkan penampilan luar yang Islami sering kali tidak dibarengi dengan peningkatan kesalehan. Sekarang, banyak orang yang percaya diri menunjukkan “keislaman” mereka, namun keseriusan mereka dalam memeluk memeluk nilai-nilai Islam masih tanda tanya.

Mencari tolak ukur kesalehan memang sulit. Gemini (AI) menyarankan untuk menilai kesalehan seseorang, kita bisa mengamati ketaatan menjalankan ritual agama, aktivitas keuangan atau tingkat altruismenya. Namun pada akhirnya, kita tidak pernah tahu apa yang ada di hati seseorang, dan lagi seseorang tidak harus menjadi religius untuk menjadi orang baik.

Inilah perdebatan klasik antara “permukaan vs substansi” dalam identitas agama. Paradoks ini juga marak muncul di berbagai ranah; contohnya, Indonesia bangga menjadi negara Muslim terbesar, tapi merupakan rumah bagi netizen paling tidak sopan di dunia. Malaysia juga bangga dengan identitas Islamnya, namun skandal besar seperti 1MDB dilakukan oleh individu yang mengeksploitasi label “Islam” itu sendiri.

Cendekiawan Mesir Muhammad Abduh pernah berujar: “Aku pergi ke Barat dan melihat Islam, tapi tak melihat Muslim; aku kembali ke Timur dan melihat Muslim, tapi tak melihat Islam.” Fakta bahwa kutipan ini masih relevan setelah seratus tahun lebih menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam perkembangan kita.

Islamicate

Di sinilah letak teka-teki utamanya. Apakah kita Islami karena kita tampak seperti Muslim, atau karena kita memeluk nilai-nilai Islam? Apakah kita harus mementingkan identitas lahiriah, atau memprioritaskan menjadi individu yang baik sesuai kerangka Islam?

Lebih jauh lagi, terlepas dari perkembangan ekonomi, pendidikan dan politik Islam yang sudah lama, mengapa konsep umat seolah masih sulit digapai? Selain itu, mengapa berbagai penyakit sosial masih merajalela dan kasus penipuan yang mencatut nama Islam tetap saja marak terjadi?

Tidak dapat dipungkiri kasus-kasus seperti di atas  hanya merusak nama Islam dan membangun prasangka buruk terhadap umat Muslim. Dalam konteks ini, Islamofobia bisa saja muncul tidak hanya dari kebencian semata, melainkan dari persepsi keliru yang dipicu oleh kesalahan umat Muslim sendiri.

Sopir Grab tadi adalah contoh nyata—saya merasa ia tidak benci Muslim; sepertinya ia hanya bingung dengan perilaku paradoks beberapa Muslim yang bertolak belakang dengan prinsip agamanya sendiri.

Jadi, kita harus bagaimana? Penonjolan identitas Islam di Malaysia dan Indonesia disebut sebagai fenomena Islamicate, bukan proyek Islamisasi yang tuntas. Istilah ini merujuk pada praktik normatif umat Muslim yang lebih berkaitan dengan budaya dan validasi identitas daripada teologi atau ortodoksi yang mendalam.

Mungkin memahami perbedaan tersebut sangatlah krusial dalam menyusun sebuah solusi, terutama jika fenomena Islamicate dalam konteks ini tidak dimaksudkan untuk merasuk jauh ke dalam aspek metafisika iman dan keyakinan Islam, melainkan hanya digunakan untuk mempertegas identitas para pengikutnya. Bagaimanapun juga, umat Muslim pun butuh validasi.

Secara pribadi, saya kembali teringat ucapan dosen filosofi saya di IIUM Ramadhan lalu: “Kamu hanya manusia biasa,” ujarnya. Ini mengingatkan saya untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri dalam menetapkan standar untuk diri sendiri dan orang lain.

Saya akan menutup wacana ini dengan sebuah pertanyaan: apakah lebih baik menjadi Muslim yang vokal dengan pemahaman yang dangkal, atau menjadi Muslim yang tenang pendiam namun teguh menjaga nilai dan prinsipnya?

Sifat introver saya mungkin membuat saya menjadi pengamat yang bias dalam hal ini, tetapi pengalaman saya dengan sopir Grab tersebut membuktikan sesuatu yang nyata: selalu ada orang yang mengharapkan lebih dari mereka yang menyebut dirinya seorang “Muslim”.

This article is published under a Creative Commons Licence. Republications minimally require 1) credit authors and their institutions, and 2) credit to STRAT.O.SPHERE CONSULTING PTE LTD  and include a link back to either our home page or the article URL.