Ada fenomena aneh yang terjadi setiap hari Jum’at di masjid terbesar di Makassar. Kredit: Unsplash/ilgmyzin
Seks dan Sembahyang di Hari Jumat
17 July 2026/10 Minutes of Reading
Artikel ini diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris menggunakan Google Gemini.
Berdagang secara Relijius
Bagi pria Muslim, shalat Jum’at adalah momen untuk peremajaan rohani, istirahat makan siang yang panjang, atau sekadar tidur siang saat khatib menyampaikan khotbahnya dari mimbar masjid.
Namun, di Al-Markaz Al-Islami Makassar, ritual mingguan ini bertransformasi menjadi sebuah pengalaman yang tidak biasa—sebuah ruang di mana hal-hal yang seharusnya normal justru terlihat janggal.
Di sini, shalat Jum’at bukan sekadar kewajiban agama, melainkan juga kesempatan untuk melintasi ruang tempat bertemunya hal-hal sakral (the divine) dan duniawi (the mundane). Persinggungan ini menciptakan pengalaman surealis yang mungkin memicu pemikiran mendalam bagi pengamat yang jeli, namun terasa membingungkan bagi mereka yang belum terbiasa. Sebagaimana yang akan diulas di bawah ini, kapitalisme menjadi kekuatan utama yang menggerakkan fenomena tersebut.
Izinkan saya memberikan konteks awal: Al-Markaz adalah masjid terbesar di Makassar, bahkan mungkin di Indonesia Timur, dengan kapasitas maksimal mencapai 10.000 jemaah dalam bangunan seluas hampir 7.000 meter persegi. Masjid ini dilengkapi pekarangan luas yang memungkinkan segala jenis aktivitas luar ruangan berlangsung, mulai dari perdagangan, olahraga hingga pasar malam pada waktu-waktu tertentu.
Aktivitas komersial ini tumbuh subur di luar area utama masjid.
Di salah satu sisi masjid, deretan ruko memenuhi seluruh area di seberang jalan, menawarkan barang dan jasa mulai dari parfum, coto Makassar, hingga pencucian sepeda motor. Tidak jauh dari sini terdapat salah satu pasar tradisional terkenal di Makassar, Pasar Terong, yang selalu ramai dengan hiruk-pikuk pembeli dan pedagang yang saling menawar harga barang-barang. Selain itu, di depan gerbang utama masjid, terdapat lapangan padel yang padat dan sering kali bersaing dengan Al-Markaz sendiri dalam menarik perhatian pengunjung.
Masjid ini pada dasarnya berfungsi sebagai “jangkar” yang menarik lebih banyak arus massa ke area tersebut, menciptakan efek limpahan (spillover effect) bagi ekosistem UMKM di sekitarnya. Jika korelasi positif ini terjadi di lingkungan luar masjid, hal yang sama tampaknya jauh lebih nyata terjadi di dalam kompleks masjid; hasilnya adalah sebuah fenomena yang unik sekaligus menarik.
Siapa pun yang menunaikan shalat Jum’at di Al-Markaz tentu dapat bersaksi atas hal ini.
Pasar Jum’at
Setiap hari Jum’at, sudut-sudut pekarangan masjid yang teduh bertransformasi menjadi pasar Jumat di mana berbagai pedagang yang menjajakan segala macam barang, mirip dengan aktifitas komersil di luar kompleks masjid.
Sejujurnya, pasar Jum’at di Al-Markaz merupakan pengalaman yang relatif baru bagi saya. Kendati demikian, saya sudah terbiasa melihat para penjual makanan berjejer di area luar Masjid Tabung Haji, Masjid Bukit Aman, dan Masjid Jamek Kampung Baru di Kuala Lumpur. Justru, saya pertama kali mendatangi pasar Juma’t Al-Markaz karena pilihan hidangan lokalnya yang melimpah, baik yang manis maupun yang gurih.
Kala itu, pandangan saya langsung tertuju pada seorang pedagang yang menjual coto Makassar, sop saudara dan—favorit pribadi saya—pallu kaloa (sup kepala ikan berbumbu kuah kluwek). Hidangan yang terakhir ini sayangnya sudah langka di Makassar.
Ironisnya, hidangan langka ini mungkin menjadi alasan saya melaksanakan shalat Jum’at di sana; ada kalanya saya pergi ke Al-Markaz pada hari Jum’at hanya untuk menyantap pallu kaloa setelahnya. Hal ini memicu pertanyaan mengenai ketulusan niat saya beribadah di sana—atau mengapa saya shalat Jum’at.

Pallu kaloa, salah satu hidangan favorit mendiang ibu saya. Kredit: Koleksi Penulis
Namun, kedai makanan bukanlah daya tarik utama dari pasar Jumat Al-Markaz. Pusat komersial mingguan ini dipenuhi oleh para pedagang yang menawarkan berbagai macam barang terasa ganjal karena dijual di atas kompleks sakral masjid.
Serba-serbi Barang Dagangan
Beberapa langkah dari kedai pallu kaloa, seorang wanita menggunakan mikrofon dan pengeras suara untuk menjual racun tikus.

Pedagang racun tikus. Kredit: Koleksi Penulis—gambar disamarkan menggunakan Gemini
Pasar yang ia sasar mungkin tergolong spesifik (niche market), namun permintaannya jelas ada. Populasi tikus merajalela di Makassar. Jika seseorang berkeliling kota, dia akan menemui setidaknya lima bangkai tikus di jalanan—Makassar memang mempunyai masalah kebersihan.
Namun, wanita tersebut membidik pembeli yang memiliki masalah tikus di rumah mereka, meyakinkan para calon pembeli dan pejalan kaki tentang keampuhan barang dagangannya.
Tidak jauh darinya, terdapat sebuah lapak tempat seorang ayah dan anak perempuannya mendemonstrasikan berbagai macam barang, mulai dari kipas angin listrik, kunci inggris, lentera elektrik, hingga pistol mainan berpeluru air. Anak perempuan kecil itu menunjukkan kepada para penonton cara memegang pistol air tersebut, memperlihatkan dedikasinya dalam membantu perdagangan sang ayah di usia yang begitu muda. Itu adalah sebuah citra yang terasa manis sekaligus janggal.

Duo ayah dan anak perempuan, sang anak sembari menenteng pistol air. Kredit: Koleksi Penulis—gambar disamarkan menggunakan Gemini
Jika pemandangan ini terasa terlalu membingungkan, pengunjung dapat mengistirahatkan pikiran dengan menjelajahi lapak-lapak pakaian yang tampak mendominasi pasar Jum’at ini. Namun, kenyamanan singkat ini pun tidak bertahan lama; lapak-lapak pakaian yang tak terhitung jumlahnya ini melayani berbagai macam selera dan kebutuhan, yang berarti barang dagangan mereka biasanya tidak akan diletakkan berdekatan satu-sama lain.
Apakah Anda sedang mencari parka bergaya militer, sepatu kets tiruan, deretan cincin batu akik (yang dulu sering dikaitkan oleh warga lokal dengan kekuatan mistis), pakaian dalam murah, atau kaus kaki dengan corak warna pelangi yang mudah disalahartikan sebagai symbol pride (ianya memiliki satu warna lebih banyak daripada versi LGBT), pasar Jum’at ini memiliki semuanya. Melihat semua barang tersebut berkumpul dalam satu ruang yang sama mengikis rasa normal yang biasa kita dapat dari sebuah pasar.

Mode kelas atas, gaya hari Jumat. Kredit: Koleksi Penulis
Keragaman pakaian dan atribut yang dijual menunjukkan semangat berdagang yang membara dari para pedagang Makassar ini. Bahkan, barang-barang fashion yang dipajang sangat beragam sehingga pada hari saya melakukan survei, saya teringat pada pemutaran film Devil Wears Prada 2 yang ingin saya tonton setelah dari pasar ini.
Ketika Perdagangan Bertemu Agama
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas hari Jum’at bagi jemaah Al-Markaz telah berkembang melampaui aspek keagamaan semata. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk berniaga, bersosialisasi dan bahkan waktu untuk merangkul sifat duniawi dari eksistensi kita. Hal ini juga menjadi sebuah pengingat bahwa kita tidak dapat melepaskan sifat duniawi dari kemanusiaan kita bahkan saat kita berkumpul untuk sebuah acara spiritual, dan begitu pula sebaliknya.
Fakta bahwa aktivitas komersial dapat mengubah, memperluas atau mereduksi (tergantung bagaimana Anda memandangnya) pengalaman spiritual mingguan pria Muslim menegaskan dampak unik yang muncul ketika dua hal yang bertolak belakang berbenturan.
Satu contoh ekstrem barangkali dapat menggambarkan hal ini dengan baik.
Pakaian dalam pria, pistol peluru air dan racun tikus memang merupakan barang-barang unik yang dijual di kompleks masjid. Namun, produk yang paling mengherankan di sini adalah suplemen vitalitas pria dan obat kuat penambah stamina.
Produk-produk ini dijual dalam bentuk jamu atau kopi kemasan saset, disajikan dengan nama-nama yang tersirat (misalnya, Kuda Mesir, Kopi Harimau, dan Kopi Jantan) dan hadir dengan kemasan yang bahkan lebih sugestif, sering kali bernuansa seksual.

Para pedagang menjual suplemen dan obat kuat secara terbuka di kompleks masjid. Kredit: Koleksi Penulis—gambar disamarkan menggunakan Gemini
Saya mengamati ada banyak lapak yang berdagang barang serupa, namun yang paling menarik perhatian saya adalah orang-orang yang mengoperasikan lapak-lapak tersebut.
Sebuah lapak yang tampak biasa dijaga oleh dua orang pria; karena itu, mereka tidak menimbulkan hambatan psikologis yang berarti bagi para calon pembeli, yang jelas-jelas juga merupakan pria. Akan tetapi, sebuah lapak lainnya dijaga oleh seorang wanita dan seorang anak laki-laki berusia tidak lebih dari 12 tahun—wanita tersebut sedang melayani satu-satunya pelanggan, seorang pria paruh baya yang tampak berusia 60-an.
Di seberang mereka, terdapat sebuah lapak yang dikelola oleh seorang wanita bercadar, yang dengan bangganya memamerkan berbagai macam obat kuat herbal dengan kemasan yang menampilkan pria berotot dan wanita cantik. Lapak lainnya lagi dijaga oleh dua wanita berhijab, lengkap dengan papan informasi yang mendeskripsikan manfaat fisik dan psikologis barang mereka – yang berasal dari Malaysia – dalam bahasa yang implisit.
Menurut saya, inilah puncak dari pengalaman mengherankan yang muncul ketika kapitalisme dan ritual keagamaan bersinggungan. Ini adalah sebuah fenomena ganjil yang hanya ditemukan dalam realitas kehidupan manusia, bukan dalam idealisme yang diusung oleh buku teks akademik, buku agama ataupun khotbah.
Melihat ramuan cinta dan stimulan dijual secara terbuka kepada jemaah – yang datang untuk beribadah – menghadirkan sensasi aneh yang belum pernah saya rasakan di tempat lain. Mengamati siapa yang menjualnya – dan siapa yang membelinya – memantik rasa ingin tahu tentang apa yang terlintas dalam pikiran mereka, hambatan psikologis yang mungkin atau tidak mereka hadapi, serta penggunaan bahasa untuk menyiasati topik ensitive tersebut.
Menjadi pengunjung pasar Jum’at di Al-Markaz, dengan demikian, serupa dengan melangkah ke ruang ekstradimensi, di mana hal yang normal menjadi asing, dan hal umum berubah menjadi tidak umum. Beribadah di sana pada hari Jum’at telah menjadi sebuah disonansi kognitif.
Pengamatan
Namun, dengan menyebut ini sebuah fenomena ganjil, apakah saya sedang memberikan penilaian moral terhadap keseluruhan pasar tersebut?
Ini adalah poin pengamatan pertama yang saya tarik. Mengingat tradisi Islam konservatif yang luas di Indonesia, adalah hal yang wajar bagi siapa saja untuk bereaksi lebih defensif dan menghakimi pasar Jum’at di Al-Markaz.
Meskipun aktivitas komersial selama shalat Jum’at adalah hal yang lumrah, keunikan beberapa barang dagangan yang dijual di Al-Markaz dapat dengan mudah memicu rasa cemas siapa saja yang pola pikirnya dipengaruhi oleh konservatisme. Bagaimanapun, obat kuat dan suplemen tersebut bersifat seksual; parka militer dan pistol air membangkitkan citra kekerasan; racun tikus pada hakikatnya adalah barang mematikan, dan; mengaitkan efek supranatural pada cincin batu akik adalah suatu bentuk kemusyrikan.
Perdebatan terbuka yang mempertimbangkan aspek sosioekonomi serta fikih dari fenomena ini akan menjadi wacana yang menarik. Sayangnya, efek gabungan dari ruang demokrasi yang menyusut dan konservatisme yang mengakar di Indonesia mungkin menyurutkan kemungkinan terjadinya percakapan semacam itu.
Hal ini tidak menghapus fakta bahwa barang-barang tersebut dijual secara terbuka di pekarangan Al-Markaz. Di sinilah letak kontradiksinya: Islam konservatif memang lazim di Indonesia, namun bukti dari pasar Jum’at Al-Markaz menunjukkan adanya resistensi terhadap pandangan konservatisme tersebut.
Para pengamat mungkin mengernyitkan dahi ketika pandangan mereka tertuju pada barang-barang ini, namun kalaupun mereka memiliki keberatan, mereka tidak menyampaikannya. Di sisi lain, para pedagang mungkin juga berasal dari latar belakang konservatif, namun tuntutan finansial memaksa mereka untuk terlibat dalam perilaku ekonomi yang berada di luar jangkauan konservatisme.
Konsekuensinya adalah apa yang saya sebut sebagai bukti yang menentang narasi bahwa umat Muslim adalah entitas yang monolitik. Sebagaimana yang telah saya argumenkan dalam tulisan Prophe-SEA lainnya, sudah terlalu lama perspektif yang berorientasi Barat menggambarkan Muslim sebagai komunitas berdimensi tunggal. Pasar Jum’at Al-Markaz dengan mudah mematahkan ilusi tersebut: interaksi antara kapitalisme dan tuntutan agama telah menciptakan fenomena baru yang berada di luar pandangan tradisional kita tentang umat Muslim.
Mantan perdana menteri Inggris, John Major, pernah berkata, “Kita harus lebih banyak mengutuk, dan mengurangi pemahaman,” sebagai respons terhadap kasus kriminal ekstrem pada tahun 1993. Sekarang, media sosial mendorong siapa saja untuk bersikap seperti itu: mendorong individu untuk mengkritik dan meremehkan fenomena di hadapan mereka tanpa mencoba memahami latar belakangnya.
Namun, reaksi kita terhadap pasar Jum’at seharusnya berbanding terbalik. Ini adalah pengamatan kedua yang ingin saya sampaikan, dalam bentuk pertanyaan: mengapa hal ini bisa terjadi sejak awal? Mengapa para pedagang menjual barang-barang yang terasa tidak pada tempatnya di sebuah kompleks sakral?
Kita tidak boleh mengabaikan faktor ekonomi dari semua ini. Fakta bahwa pasar Jum’at Al-Markaz tetap ramai hingga hari ini – dengan banyaknya pedagang yang bersaing menjual produk yang sama – menunjukkan bahwa ada permintaan yang berkelanjutan terhadap barang-barang dagangan tersebut. Harga produk-produk ini juga terjangkau, mengindikasikan bahwa para pedagang menyasar pasar kelas menengah dan bawah. Jika sebuah studi penelitian ditugaskan untuk menyelidiki fenomena ini lebih lanjut, kelas ekonomi pembeli akan menjadi faktor yang menarik untuk dianalisis.
Gender juga memainkan peran. Pasar Jum’at ini memiliki energi maskulin—ribuan pria Muslim menghadiri shalat Jum’at dan menjadi target pedagang setelah selesai. Oleh karena itu, barang dagangan yang dijual harus selaras dengan demografi pelanggan ini jika para pedagang berharap meraup untung—mulai dari artikel pakaian dan aksesori yang menunjukkan keperkasaan hingga ramuan yang membuat pria merasa lebih jantan. Dalam usulan studi di atas, dinamika pasar yang menargetkan satu gender dan konsekuensinya patut dieksplorasi.
Lebih jauh lagi, ketegangan antara pedagang dan pihak berwenang juga patut diperhatikan. Para pedagang – terutama pedagang jalanan – sering kali beroperasi di bawah keadaan yang mencabar, selamanya tertekan antara kewajiban memenuhi target penjualan dan menyiasati hukum Indonesia yang membingungkan. Banyak yang harus menghadapi penggusuran atau menjadi sasaran kekerasan fisik ketika mereka dianggap melakukan perdagangan di luar regulasi pemerintah.
Ini bukan tuduhan untuk menjatuhkan pihak berwenang—pedagang yang berjualan secara ilegal memang menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat luas, seperti akses terhadap fasilitas dan infrastruktur kota, atau menyebabkan kerugian secara langsung. Contohnya, pemerintah sebelumnya telah menyatakan bahwa beberapa suplemen vitalitas dan obat kuat, serupa dengan yang dijual di Al-Markaz, adalah berbahaya bagi kesehatan. Di bawah pengawasan ketat pihak berwenang, mungkin para pedagang di Al-Markaz menganggap aktifitas mingguan mereka sebagai tempat aman untuk berdangang dan jauh dari pemeriksaan pemerintah.
Kesimpulan
Ribuan jemaah menunaikan salat Jum’at di Al-Markaz setiap minggunya, namun dalam menjalankan kewajiban agama tersebut, mereka turut menggerakkan mesin kapitalisme yang membuka jalan bagi pasar Jum’at di pekarangan masjid.
Saya sering menggunakan ungkapan berikut untuk menggambarkannya kepada orang lain: “dari tempat parkir, Anda belok kanan untuk masuk ke masjid, dan Anda belok kiri untuk masuk ke pasar.”
Pengalaman tidak biasa yang disebutkan di atas adalah produk dari interaksi antara kapitalisme dan aktivitas keagamaan. Pasar Jum’at adalah fenomena yang biasa di tempat lain, namun barang dagangan yang dijual di Al-Markaz telah mengubah rasa familier itu menjadi janggal.
Sebagai mantan pedagang jalanan yang pernah mengoperasikan lapak di salah satu titik Car Free Day (CFD) di Makassar, saya memahami sensasi – dan kecemasan – saat mencoba menjual barang kepada pejalan kaki. Orang-orang mengernyit dan menatap ketika barang dagangan tidak sesuai dengan selera mereka, namun jika mereka mendekat dan membeli barang tersebut, sang penjual akan merasa divalidasi dan merasakan kelegaan yang luar biasa.
Para pedagang di Al-Markaz juga manusia, dan kondisi ekonomi – atau kurangnya kesempatan – mungkin telah memaksa mereka untuk memilih menjual barang-barang yang sebagian dari kita anggap unik. Reaksi yang tepat adalah memberikan mereka empati, mengapresiasi upaya mereka dalam mencari nafkah dengan cara yang halal dan memahami mengapa mereka menjual barang-barang ini sejak awal.
The views expressed are those of the authors and do not necessarily reflect those of STRAT.O.SPHERE CONSULTING PTE LTD.


